Home Tausyiah Mengokohkan Ilmu dengan Beramal

Mengokohkan Ilmu dengan Beramal

166
0
SHARE
Mengokohkan Ilmu dengan Beramal
Sangat perhatian dalam mengamalkan ilmu

Perhatian dalam mengamalkan ilmu agama merupakan sebab terbesar semakin kokoh dan mantapnya ilmu agama (ilmu syar’i) yang telah kita dapatkan. Jika amal tidak diperhatikan alias ditinggalkan, maka hilanglah ilmu.

Dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,

هتف بالعلم العمل ؛ فإن أجابه وإلا ارتحل

“Amal itu memanggil dengan sebab ilmu. Jika panggilan itu direspon, (maka itulah yang diharapkan). Jika tidak, maka dia akan pergi.” [1]

Oleh karena itu, amal adalah sebab kokohnya ilmu. Asy-Sya’bi rahimahullahu Ta’ala (generasi tabi’in) berkata,

كنا نستعين على حفظ الحديث بالعمل به

“Dulu kami berusaha untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya.” [2]

Juga diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu Ta’ala ‘anhu, beliau berkata,

إنك لن تكون عالما حتي تكون متعلما، ولن تكون متعلما حتي تكون عاملا بما تعلمت

“Sesungguhnya Engkau tidak akan menjadi seorang ‘alim (orang yang berilmu), sampai Engkau belajar (menuntut ilmu). Tidaklah Engkau menjadi penuntut ilmu, sampai Engkau mengamalkan ilmu yang telah Engkau pelajari.” [3]

Kalimat-kalimat yang semakna dengan kutipan di atas sangatlah banyak dinukil dari para salaf terdahulu, semoga Allah Ta’ala meridhai dan merahmati mereka semuanya.

Memohon pertolongan Allah Ta’ala dalam mengamalkan ilmu

Di antara doa yang dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap hari setelah shalat subuh adalah,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima.”

Dalam riwayat yang lain,

وَعَمَلًا صالحا

“Dan amal yang shalih.” [4]

Dalam doa di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendahulukan ilmu yang bermanfaat sebelum rizki yang baik dan amal yang shalih (amal yang diterima). Hal ini karena seorang hamba tentu saja tidak bisa membedakan mana rizki yang baik dan mana rizki yang tidak baik (yang haram), kecuali dengan ilmu. Demikian pula, seorang hamba tidak bisa membedakan mana amal yang shalih dengan amal yang sia-sia, kecuali dengan ilmu.

Doa di atas juga sangat cocok dan sesuai dipanjatkan setiap muslim di pagi hari sebelum memulai berbagai aktivitas harian. Karena hari-hari setiap muslim adalah medan untuk beramal dengan tiga target yang terdapat dalam doa di atas, yaitu: (1) ilmu yang bermanfaat; (2) rizki yang baik (halal); dan (3) amal shalih yang diterima.

Setelah memanjatkan doa di atas, seorang muslim berangkat memulai berbagai aktivitasnya, dengan terus memohon pertolongan dari Allah Ta’ala, agar senantiasa mendapatkan bantuan dan pertolongan dalam menuntut ilmu, mencari rezeki yang halal dan bersungguh-sungguh dalam beramal shalih.

Ilmu yang bermanfaat dan amal yang diterima adalah dua hal yang saling terkait. Karena “ilmu yang bermanfaat” (al-‘ilmu an-naafi’) itu mengandung dua pengertian:

Pertama, dilihat dari sumbernya. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga perkataan para sahabat radhiyallahu ‘anhum dan para ulama yang mendapatkan petunjuk di atas kebenaran.

Kedua, dilihat dari dampak ilmu tersebut. Tidak diragukan lagi, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amal shalih, bukan sekedar hanya sebagai wawasan semata.

Dan amal itulah yang akan semakin mengokohkan ilmunya. [5]

***

@ Sint-Jobskade NL 718, 12 Ramadhan 1439/ 29 Mei 2018

Oleh seorang hamba yang sangat butuh ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

 

Catatan kaki:

[1]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam “Dzamm man lam ya’mal bi ‘ilmihi”, hal. 38.

[2]     Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ bayaan al-‘ilmi”, 1/709.

[3]     Diriwayatkan oleh Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Al-Iqtidha”, hal. 16-17.

[4]    Diriwayatkan oleh Ahmad (6/294), Ibnu Majah (no. 925) dan Ath-Thabrani dalam Ad-Du’aa’ (no. 670). Dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Nataaijul Afkaar (2/315) dan dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah.

[5]     Pembahasan ini disarikan dari kitab Tsamaratul ‘Ilmi Al-‘Amalu, karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr.